Selasa, 08 Desember 2009

MALSASA 2009

MENGGELAR MALSASA
MENGGAIRAHKAN SASTRA

Oleh: Aming Aminoedhin

Ada asumsi masyarakat sastra yang tidak begitu pasti, bahwa kegiatan sastra di Surabaya dan Jawa Timur, pada tahun ini, 2009, agak lesu darah. Benarkah?

Kalau saja mau mencatat, dan agak membenarkan asumsi ini, bahwa kegiatan yang mengusung salah satunya pentas sastra, yaitu Festival Seni Surabaya (FSS) dan Festival Cak Durasim (FCD) tahun 2009 ini memang tidak tidak diselenggarakan. Kegiatan sastra Dewan Kesenian Surabaya, juga tidak tampak signifikan kegiatannya, pada tahun ini. Bila mau mencatat barangkali ada kegiatan yang digarap Hanif Nasrullah, bertajuk ‘Terminal sastra’ beberapa waktu lalu. Lantas, ada juga kegiatan lomba baca puisi yang kan diselenggarakan pada pertengahan Desember 2009 ini.
Fakultas sastra Universitas Airlangga, yang biasanya mengadakan kegiatan Hari Sastra pada bulan April, tahun ini juga tidak ada gaungnya. Padahal, beberapa tahun lalu, Adi Setijowati (dosen Sastra Unair) pernah menggerakkan aktivitas peringatan Hari sastra begitu bergaung, dan punya nilai menggairahkan sastra Surabaya dan Jawa Timur.
Jika mau mencatat adanya kegiatan sastra tahun ini adalah, Festival Tantular, diselenggarakan Museum Mpu Tantular yang masih mengikutkan bidang sastra bergabung tampil pada festivalnya. Ada sepuluh nama penyair dan penggurit Jawa Timur tampil dalam kegiatan pentas sastra ini. Mereka itu: AF Tuasikal, Aming Aminoedhin, Tengsoe Tjahjono, Bonari Nabonenar, Widodo Basuki, Zainal Abidin, R. Giryadi, Budi Palopo, Herry Lamongan, dan W. Haryanto. Malam sastra Tantular yang digelarpentaskan 20 November 2009 malam lalu itu, menerbitkan kumpulan puisi dan gurit ‘Candhi’.
Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, menerbitkan antologi puisi ‘Manifesto Illusionisnme” dengan pemrakarsa R. Giryadi, malah bisa membuat ‘Temu Sastra Jatim’ di kantornya Jalan Menanggal, Surabaya. Meski, kegiatan ini mengetengahkan pembicara Beni Setia dan Tjahjono Widijanto, serta menampilkan beberapa penyair Surabaya dan Jatim sebanyak 15 orang; namun gaungnya tidak begitu kentara di mata masyarakat sastra.
Sedangkan komite sastranya Dewan Kesenian Jawa Timur, pada tahun 2009 ini, tidak tampak berbuat apa-apa. Tidak ada kegiatannya yang tampak mengemuka. Janji akan menerbitkan kumpulan puisi pada tahun ini pun tidak terealisir, hingga akhir tahun 2009.
Apabila mau mencatat kegiatan sastra lainnya, tahun ini, barangkali perlu diacungi jempol Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), yang diprakasai J.F.X. Hoery dengan mengadakan “Kemah Budaya Sastra Jawa” yang banyak melibatkan pengarang sastra Jawa Timur, dan luar Jawa Timur. Lantas ada kegiatan ‘Lamongan Art’ yang diprakarsai anak-anak Dewan Kesenian Lamongan (DKL) dengan motornya Herry Lamongan, menerbitkan kumpulan puisi penyair Jawa Timur, antara lain: Kusprihyanto namma, Tengsoe Tjahjono, Mashuri, Indra Tjahjadi, Aming Aminoedhin, dan W. Haryanto dalam antologi sajak bertajuk ‘Kidung Tanjung.’ Acara digelar pada akhir Oktober dan awal November 2009 lalu di Lamongan.
Barangkali fakta kegiatan yang masih ada di atas akan menjawab adanya asumsi di atas, bahwa sastra Jawa Timur, tidak lesu darah. Hanya gaungnya saja yang kurang bergairah. Nah... berangkat dari persoalan inilah, saya mencoba kembali menggelarpentaskan “Malsasa 2009” atau malam sastra Surabaya, betapa pun pahitnya. Karena kegiatan sastra yang didanai sendiri, hampir semua orang tahu pasti, adalah sebuah kegiatan yang merupakan projek merugi. Kegiatan ini pun, sekaligus untuk menjawab atas tidak adanya kedua festival yang sudah cukup dikenal masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Setidaknya aktivitas Gelar Pentas Malsasa 2009 yang akan dijadwalkan 17 Desember 2009 di Taman Budaya ( moga-moga tidak meleset), akan membuat sedikit angin segar yang akan mewarnai peta pentas sastra Surabaya dan Jawa Timur.

Malsasa dan Perempuan

Berbicara soal Malsasa adalah singkatan dari Malam Sastra Surabaya, yang telah beberapa kali saya gelarpentaskan, diawali sejak menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku” . Nama-nama yang ikut kumpulan itu, antara lain: Aming Aminoedhin, Ang Tek Khun, Viddy Alymahfoedh Daery, Roesdi-Zaki, Jil P. Kalaran, Pudwianto, dan Herry Lamongan; terjadi pada tahun 1989.
Kemudian acara Malam Sastra Surabaya (Malsasa) terus bergulir, digelar tidak secara berurutan atau kontinyu penyelenlenggaraannya, sebab melompat-lompat angka tahun kegiatannya. Ini lantaran terbatasnya dana, yang notabene harus urunan atau patungan dana sesama penyair dan penggurit. Setelah Menerbitkan “Surabaya Kotaku” lantas pada tahun menerbitkan kumpulan bertajuk “Malsasa 1991”, “Malsasan ‘92”, “Malsasa ‘94”, “Malsasa 96”, “Malsasa 2000”, “Malsasa 2005, “ dan terakhir “Surabaya 714” Malsasa 2007. Dan untuk “Malsasa 2009” ini adalah kegiatan gelar pentasnya yang kesembilan kali, lengkap dengan buku kumpulan puisi dan guritannya. Angka sembilan memang angka terbesar dibanding angka-angka sebelumnya. Tapi adakah pentasnya Malsasa 2009 ini akan yang terbesar? Wallahu alam bisawab!
Merunut sejarahnya, Malsasa adalah kumpulan para penyair yang juga ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Mereka menulis puisi dan membacakannya. Belakangan, Malsasa tidak hanya penyair yang berkiprah tampil, tapi juga para penggurit yang menulis puisi dalam bahasa Jawa. Mereka bergabung jadi satu, dan tampil bareng-bareng dalam pesta bernama Malsasa.
Pada awalnya memang hanya puisi-puisi yang bertemakan tentang kota Surabaya yang dimuatbacakan pada acara ini, tapi belakangan telah berganti dan beragam tema dimasukkan dalam kumpulan Malsasa. Seperti juga kita maklumi bersama, agak susah memang penyair disuruh menulis yang mereka sedang tidak mood menuliskannya. Maka terjadilah Malsasa memuat beragam tema, dari soal: cinta, lingkungan hidup, manusia, dunia salah kaprah, sejarah, daun, bulan, gonjang-ganjing politik, mentari, dan gunung, bahkan juga bicara soal kata dengan segala keampuhan daya ungkapnya.
Tapi itu semua adalah keampuhan Malsasa, bisa melibatkan banyak kawan untuk bersama-sama patungan dana, dan tampil pentas sastra. Saya selalu bilang, mari infaq sastra, dengan patungan menggelar Malsasa. Memberi sesuatu bagi masyarakat yang membutuhkannya, apalah salahnya?
Yang pasti harus dicatat bahwa Malsasa, pernah melibatkan sekian banyak yang pernah ikut dan gabung dalam pentsnya, mereka itu antara lain: AF Tuasikal, L. Machali, Mashuri, HU Mardiluhung, Tan Tjin Siong, Tubagus Hidayathullah, Surasono Rashar, Sigit Hardadi, Saiful Hadjar, Arief B. Prasetyo, M. Shoim Anwar, Leres Budi Santosa, Jil Kalaran, Roesdi-Zaki, Redi Panuju, Hardjono WS, Akhudiat, Tengsoe Tjahjono, Robin Al-Kautsar, Mh. Zaelani Tammaka, W. Haryanto, S. Yoga, dan beberapa perempuan adalah Sirikit Syah, Adi Setijowati, Ida Nurul Chasanah, Debora Indrisoewari, Puput Amiranti, dan Zoya Herawati.
Dari perjalanan panjang Malsasa dari masa ke masa, penyair berjenis kelamin perempuan, memang tidak sebanyak kaum lelakinya. Bahkan tahun hanya satu nama: Puput Amiranti dari Blitar. Ada apa? Sebuah tanya yang barangkali kaum perempuan yang akan bisa menjawabnya.

Gelar Pentas Malsasa 2009

Pada gelar pentas Malsasa 2009, akan dijadwalkan melibatkan 26 penulis sastra (pernyair dan penggurit) yang akan tampil (Insya Allah 17 Desember 2009, di Taman Budaya Jatim), jika tidak ada perubahan jadwalnya. Nama-nama yang akan tampil adalah: AF Tuasikal, Akhudiat, Anas Yusuf, Aming Aminoedhin, Bagus Putu Parto, Bambang Kempling, Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Beni Setia, Fahmi Faqih, Hardho Sayoko SPB, Herry Lamongan, J.F.X. Hoery, Kusprihyanto Namma, Tan Tjin Siong, Tengsoe Tjahjono, Rusdi Zaki, Ribut Wijoto, R. Giryadi, Sabrot D. Malioboro, Samsudin Adlawi, Suharmono Kasijun, Pringgo HR, Puput Amiranti, W. Haryanto, dan Widodo Basuki.
Buku kumpulan puisi dan guritan Jawa Timur bertajuk Malsasa 2009 ini, diterbitkan oleh Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Buku kumpulannya memuat 77 puisi, yang terdiri dari 65 puisi berhasa Indonesia, dan 12 guritan. Naskah guritan ditulis oleh: Bonari Nabonenar sebanyak 3 judul guritan, Widodo Basuki 3 judul guritan, Suharmono Kasijun 2 judul guritan, Herry Lamongan 3 judul puisi, dan Budi Palopo 1 judul guritan bertajuk Gurit Manohara.
Gelaran pentas Malsasa 2009 ini, mengusung 26 penulis sastra yang terdiri dari 11 kota, yaitu: Surabaya (4 penulis), Mojokerto (2 penulis), Madiun (2 penulis), Blitar (3 penulis), Lamongan (3 penulis), Gresik, Banyuwangi, dan Bojonegoro (masing-masing 1 penulis), Malang dan Ngawi (masing-masing 2 penulis), dan Sidoarjo (5 penulis). Dalam buku Malsasa 2009, ada 3 penulis, yang profesi juga merangkap sebagai dosen, mereka itu: Rusdi Zaki, Tengsoe Tjahjono, dan Suharmono Kasijun. Lantas ada juga 6 orang guru, yaitu: Herry Lamongan, Bambang Kempling, Pringgo HR, Kusprihyanto Namma, Puput Amiranti, dan Anas Yusuf. Sementara yang tampil sebagai penggurit ada 5 orang, yaitu: Bonari Nabonenar, Budi palopo, Herry Lamongan, Suharmono Kasijun, dan Widodo Basuki., sedangkan selebihnya mengaku sebagai penyair.
Sekali lagi, bahwa gelar pentas Malsasa 2009 ini adalah untuk menumbuhkan kembali kegiatan sastra Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya, dengan harapan bisa menggairahkan sastra di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Benarkan pentas Malsasa kesembilan akan sebesar angkanya? Mari kita saksikan pentasnya!

Desaku Canggu, Awal Desember 2009

Tidak ada komentar: